Pengaruh Narkoba Terhadap Kesehatan Reproduksi
Penyalahgunaan
narkoba yang terdapat pada pergaulan masyarakat baik di kalangan orang
muda maupun orang tua. membentangkan keadaan ironis di sebuah negara
yang bangga dengan keagamaan. Usaha pemberantasan yang hanya diserahkan
pada pihak kepolisian memang tidak tepat. Lantaran permasalahan
penggunaan ini bukan hanya tugas kepolisian, namun juga sekolah,
lingkungan masyarakat dan terutama keluarga. Karena banyak ditemui dalam
beberapa
kasus, salah satu alasan yang diungkapkan adalah dapat
meningkatkan
fungsi seksual. Itulah mengapa banyak pasangan baik remaja atau remaja
atau pasangan dewasa yang setelah diperiksa ternyata darahnya positif
mengandung narkoba. Kenyataan Medis menyatakan bahwa narkoba tidak dapat
meningkatkan fungsi seksual namun justru menimbulkan akibat buruk
terhadap fungsi seksual dan organ tubuh yang lain, selain tentunya
kematian.
Sacara pengaruh yang ditimbulkan, jenis narkoba digolongkan dalam 4
kelompok, yaitu: Narkotika, terutama opiat atau candu, kemudian
Halusinogenik, misalnya ganja atau marijuana, Kemudian Stimulan,
misalnya ecstasy dan shabu-shabu, dan terakhir Depresan, misalnya obat
penenang. Masing-masing kelompok mempunyai pengaruh tersendiri terhadap
tubuh dan jiwa penggunanya. Opiat, yang menghasilkan heroin atau
“putauw” menimbulkan perasaan seperti melayang dan perasaan enak atau
senang luar biasa, yang disebut euforia. Tetapi ketergantungannya sangat
tinggi dan dapat menyebabkan kematian. Marijuana atau ganja, yang
termasuk kelompok halusinogenik, mengakibatkan timbulnya halusinasi
sehingga pengguna tampak senang berkhayal. Namun juga terdapat efek
samping, misalnya muntah, sakit kepala, koordinasi yang lambat, tremor,
otot terasa lemah, bingung, cemas, ingin bunuh diri, dan beberapa akibat
lainnya.
Bahan yang tergolong stimulan menimbulkan pengaruh yang bersifat
merangsang sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan rangsangan secara
fisik dan psikis. Ecstasy, yang tergolong stimulan, menyebabkan pengguna
merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, ingin bergerak terus,
sampai tidak ingin tidur dan makan. Akibatnya dapat sampai menimbulkan
kematian. Sebaliknya bahan yang tergolong depresan menimbulkan pengaruh
yang bersifat menenangkan. Depresan atau yang biasa disebut obat
penenang, dibuat secara ilmiah di laboratorium. Berdasarkan indikasi
yang benar, obat ini banyak digunakan sesuai dengan petunjuk dokter.
Dengan obat ini, orang yang merasa gelisah atau cemas misalnya, dapat
menjadi tenang. Tetapi bila obat penenang digunakan tidak sesuai dengan
indikasi dan petunjuk dokter, apalagi digunakan dalam dosis yang
berlebihan, justru dapat menimbulkan akibat buruk lainnya.
Akibat penyalahgunaan narkoba adalah fisik dan psikis, tergantung dari
jenis narkoba yang digunakan, cara penggunaan, dan lama penggunaan.
Beberapa akibat fisik ialah kerusakan otak, gangguan hati, ginjal,
paru-paru, dan penularan HIV/AIDS. Akibat lain juga timbul sebagai
komplikasi cara penggunaan narkoba melalui suntikan, misalnya infeksi
pembuluh darah dan penyumbatan pembuluh darah. Di samping akibat
tersebut di atas, terjadi juga pengaruh terhadap irama hidup yang
menjadi kacau seperti tidur, makan, minum, mandi, dan kebersihan
lainnya. Lebih lanjut, kekacauan irama hidup ini mendorong timbulnya
berbagai penyakit.
Akibat psikis yang mungkin terjadi ialah sikap yang apatis, euforia,
emosi labil, depresi, kecurigaan yang tanpa dasar, kehilangan kontrol
perilaku, sampai mengalami sakit jiwa. Akibat fisik dan psikis tersebut
dapat menimbulkan akibat lebih jauh yang mungkin mengganggu hubungan
sosial dengan orang lain yang merugikan orang lain. Sebagai contoh,
perkelahian dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pelaku tidak
berada dalam keadaan normal, baik fisik maupun psikis.
Narkoba Tidak dapat meningkatkan fungsi seksual dengan pengaruh yang
ditimbulkan oleh semua jenis narkoba, baik secara fisik maupun psikis
yang sebenarnya tidak ada pengaruh yang positif terhadap fungsi seksual.
Bahkan sebaliknya, justru pengaruh negatif yang dapat terjadi. Tapi
sayang banyak warga masyarakat yang telah tertipu oleh informasi salah.
Padahal orang yang menggunakan narkoba bukan manfaat terhadap fungsi
seksual yang didapat, melainkan berbagai akibat buruk, bahkan kematian.
Gangguan fungsi seksual dan reproduksi yang terjadi, tergantung dari
jenis narkoba yang digunakan dan jangka waktu menggunakan bahan yang
berbahaya itu. Benikut akan diuraikan pengaruh beberapa jenis narkoba
terhadap fungsi seksual dan reproduksi.
Heroin; Walaupun menimbulkan euforia, tidak berarti heroin memberikan
pengaruh positif bagi fungsi seksual dan reproduksi. Heroin justru
menimbulkan pengaruh buruk bagi fungsi seksual. Pada pria terjadi
penurunan kadar hormon testosteron, menurunnya dorongan seksual,
disfungsi ereksi, dan hambatan ejakulasi. Pada wanita, beberapa pengaruh
buruk terjadi juga pada fungsi seksual dan reproduksi, yaitu menurunnya
dorongan seksual, kegagalan orgasme, terhambatnya menstruasi, gangguan
kesuburan, mengecilnya payudara, dan keluarnya cairan dari payudara.
Masalah seksual tersebut muncul karena pengaruh heroin yang menghambat
fungsi hormon seks, baik pada pria maupun wanita.
Marijuana; Selain menimbulkan pengaruh halusinasi, marijuana juga
menimbulkan akibat buruk bagi fungsi seksual. Bahan yang diisap seperti
rokok ini memiliki kandungan tar yang jauh lebih tinggi daripada rokok.
Berbagai akibat pada fungsi seksual dan reproduksi dapat terjadi karena
penggunaan marijuana. Beberapa akibat pada pria ialah mengecilnya ukuran
testis dan menurunnya kadar hormon testosteron. Lebih lanjut
mengakibatkan pembesaran payudara pria, dorongan seksual menurun,
disfungsi ereksi, dan gangguan sperma. Pada wanita terjadi gangguan sel
telur, hambatan menjadi hamil, dan terhambatnya proses kelahiran, di
samping dorongan seksual yang menurun.
Ecstasy; Karena bersifat stimulan, maka ecstasy menyebabkan pengguna
merasa terus bersemangat tinggi, selalu gembira, dan ingin bergerak
terus. Tetapi walaupun memberikan pengaruh yang bersifat merangsang,
tidak berarti ecstasy menimbulkan pengaruh yang positif bagi fungsi
seksual. Ecstasy meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamine di
dalam otak. Dopamine merupakan neurotransmitter yang bersifat
merangsang, termasuk terhadap perilaku seksual. Maka peningkatan
dopamine sebagai akibat pengaruh ecstasy dapat menyebabkan hilangnya
kemampuan untuk mengontrol perilaku seksual. Pengguna ecstasy menjadi
berani, tanpa kontrol, melakukan hubungan seksual tanpa memikirkan
risiko, bahkan dapat melakukan aktivitas seksual yang tidak mungkin
dilakukan dalam keadaan normal. Perilaku seksual tanpa kontrol ini
sangat berisiko. Bila digunakan oleh wanita hamil, ecstasy dapat
meningkatkan risiko cacat pada bayi sampai tujuh kali lebih besar.
Depresan; atau obat penenang yang digunakan berlebihan juga dapat
menimbulkan akibat buruk bagi fungsi seksual, baik pada pria maupun
Wanita. Sebagai contoh penyalahgunaan barbiturat yang dapat mengganggu
metabolisme hormon testosteron dan estrogen. Maka pada wanita,
penyalahgunaan barbiturat dapat mengakibatkan gangguan menstruasi dan
menurunnya dorongan seksual. Lebih jauh keadaan ini berakibat hambatan
dalam mencapai orgasme. Pada pria, penyalahgunaan barbiturat dapat
mengakibatkan penurunan dorongan seksual dan disfungsi ereksi. Kalau
akibat ini timbul, justru bukan ketenangan yang didapat, melainkan
menjadi semakin gelisah dan kecewa. Jadi, bila sebagian besar pengguna
narkoba mengaku fungsi seksualnya lebih baik, sebenarnya adalah
pengakuan palsu yang tidak disadarinya. Perasaan bahwa fungsi seksualnya
lebih baik, terutama justru disebabkan oleh pengaruh negatif narkoba.
Sebagai contoh, karena menggunakan ecstasy mereka merasa lebih segar dan
bergembira sehingga merasa fungsi seksualnya juga lebih baik. Pengguna
ecstasy menjadi lebih berani karena kehilangan kontrol sehingga tidak
takut melakukan hubungan seksual, termasuk hubungan seksual yang
berisiko tinggi.
Pengguna depresan atau obat penenang merasa lebih tenang sehingga lebih
berani melakukan hubungan seksual, bahkan dengan siapa saja. Karena itu
mereka beranggapan fungsi seksualnya lebih baik setelah menggunakan
depresan. Jadi pengakuan mereka sebenarnya adalah pengakuan palsu yang
tidak mereka ketahui. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah proses
gangguan fungsi seksual dan reproduksi. Di samping itu, tentu mereka
akan mengalami ketergantungan terhadap narkoba dengan segala akibat
buruknya, sampai pada kematian.